Kamis, 02 Desember 2010

ZERO TO HERO, ZERO TO GOOD MOSLEM

Bagaimana rasanya ketika kita menawarkan bantuan dana pada dhuafa namun ditolak? Kita tentu tidak boleh su’udzon. Bisa saja dia seperti yang dimaksud Allah SWT di dalam Al Qur’an yaitu orang yang tidak punya dan tidak suka menengadahkan tangannya alias tidak mau meminta-minta.
            Hal ini berawal dari cerita anak didik saya di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Al Musthofa yang kukelola bersama rekan-rekan, kalau beberapa santri TPQ mengikuti les di sebuah gereja.  Les semua mata pelajaran dengan gratis, bisa main komputer sepuasnya, diberi snack dan makan nasi dengan lauk yang enak (menurut ukuran anak dhuafa) serta enam bulan sekali diajak rekreasi ke Jawa Timur Park atau Taman Safari Prigen Pasuruan. Padahal anak-anak TPQ juga mendapat snack/buah segar sebanyak dua sampai tiga kali dalam satu bulan.
Mendapat berita yang mengagetkan itu membuatku mencari tahu siapa saja yang ikut les ke gereja. Ternyata ada lima anak dan sudah sepengetahuan orang tuanya!!
Aku dan bu Nuri – rekan mengajar di TPQ - sepakat kalau kami harus menghentikannya dengan memberi solusi. Terbayang olehku mereka masuk ke gereja, akrab dengan lingkungannya dan akhirnya menjadi kristiani. Harus dicegah sebelum terlambat!
Benarlah sabda Rosulullah SAW, “Kefakiran lebih dekat pada kekafiran.” Berbekal sabda baginda itulah, aku dan bu Nuri merancang sebuah strategi yang kami pikir efektif untuk melepaskan keterikatan anak-anak dengan pihak gereja.
Aku bertugas mendekati orang tuanya. Sasaranku adalah ibunda kelima anak tersebut. Beragam alasan dilontarkan dari kelima bunda ketika kutawarkan memberi beasiswa setiap bulan, perlengkapan sekolah hingga membayar les pelajaran di tempat lain. Tawaran ini berlaku mulai saat ini (SD) sampai putra-putrinya tamat SMA/sederajat.
Bunda 1           : “Sejak awal saya tidak setuju Banda ikut les di gereja. Meski  keluarga
kami berasal dari keluarga Kristen, namun karena sudah menjadi muslim, saya bertanggung jawab membentengi anak-anak saya supaya menjadi muslim yang taat. Ketika les di gereja, saya yakin anak saya akan diajari seperti orang Kristen. Ketika masuk ke TPQ, dia diajari cara Islam. Oleh karena itu, saya menolak tawaran les gratis. Saya juga diejek saudara-saudara saya yang Kristen, sudah miskin kok menolak difasilitasi secara gratis. Meskipun saya orang miskin, saya tidak ingin anak saya bingung apalagi di jaman sekarang, anak harus kuat agamanya supaya tidak terjebak pergaulan bebas.” 
Akhirnya kami menyalurkan beasiswa dari LMI (Lembaga Manajemen Infaq) Blitar kepada Banda – kebetulan beberapa pengurus LMI adalah teman saya - sebulan sekali hingga dia lulus SMA/sederajat nanti.

Bunda 2           : “Saya  tidak  enak  dengan  saudara-saudara  saya  yang  Kristen.  Saya
biarkan saja Fari diajak les pelajaran ke gereja. Saya sebenarnya ingin membiayai les Fari dengan uang saya sendiri. Tapi bagaimana ya, di sana gratis. Kalau saya menerima tawaran mbak untuk mengeluarkan Fari dari sana, saya sudah terlanjur tanda tangan surat perjanjian dengan pihak gereja.”
Setelah Bunda Fari berjanji mencabut perjanjian dengan pihak gereja dan kami yakin Fari tidak les di sana lagi, kami juga menyalurkan beasiswa dari LMI Blitar kepada Fari – sekarang sudah kelas 2 SD - sebulan sekali hingga dia lulus SMA/sederajat nanti.

Bunda 3           : “Kami berasal dari keluarga  muslim  bahkan  suami  saya  pintar  baca
Al Qur’an. Di gereja fasilitasnya gratis. Seminggu lesnya 3 kali dan selalu diberi makan dan kue. Kata pihak gereja, sekolah anak saya akan dibiayai. Kalau Ajeng dipindah dari sana, saya belum yakin beasiswa yang mbak tawarkan akan terus berlanjut. Khawatirnya setelah Ajeng keluar dari les di gereja, beasiswa yang mbak tawarkan berhenti sebelum Ajeng lulus SMA.”
Saya memberi waktu sebulan supaya Bunda Ajeng mempertimbangkan tawaran saya. Saya juga menyampaikan cerita Ajeng kepada sang Bunda, kalau Ajeng kebingungan. Ketika di gereja diharuskan berdoa dengan doa ala Kristen, sementara di TPQ diajari doa-doa Islami dan Ajeng memilih diam ketika diharuskan berdoa sebelum kegiatan les di gereja. Hingga sebulan berlalu, Bunda Ajeng belum memberi jawaban. Saya beranggapan tawaran saya ditolak, apalagi sewaktu mendengar dari anak-anak TPQ yang lain kalau Ajeng masih les ke gereja.
            Enam bulan berlalu. Hingga suatu hari Bunda Ajeng ke rumah saya dan menanyakan apakah tawaran saya masih berlaku. “Apakah Ajeng sudah tidak les di gereja lagi?” tanya saya.
            Ternyata Ajeng sudah tidak les ke gereja lagi karena bantuan dana untuk sekolah diberhentikan dengan alasan yang kurang jelas. Hanya les gratis saja. Padahal yang sangat diharapkan oleh Bunda Ajeng adalah dananya. Setelah bermusyawarah dengan bu Nuri, kami sepakat memberi beasiswa beserta fasilitas sekolah yang berasal dari donatur (selain LMI) dan diberikan sebulan sekali hingga Ajeng lulus SMA/sederajat. Itupun kami warning jika kami mengetahui dia kembali ke gereja, beasiswa akan kami cabut.  

Bunda 4           : “Terus terang, mbak, saya memasukkan Yesi les ke gereja karena gratis  
dan diberi uang saku meskipun tidak banyak. Saya juga tidak enak kalau harus mencabut surat perjanjian dengan pihak sana. Selain uang saku, di sana diberi dana untuk membeli buku, seragam, sepatu, rekreasi setiap enam bulan sekali dan masih banyak lagi. Kalau Yesi saya tarik dari sana, apakah fasilitas yang diberikan sama seperti di gereja?”
Saya sampaikan fasilitas yang saya tawarkan adalah beasiswa Rp 50.000,00 tiap bulan (ternyata jauh lebih besar dari pemberian gereja!!!). Selain itu, kuitansi pembelian sepatu, tas, seragam, buku atau les di tempat orang muslim akan kami ganti secara tunai, saat itu juga. Saya sampaikan kepada Bunda Yesi, kalau Yesi dan saudara sepupunya, Ajeng, kebingungan ketika harus berdoa di gereja. “Apakah Bunda tidak kasihan kepada Yesi, apalagi Yesi sudah lancar membaca Al Qur’an, sangat cepat menghafal Al Qur’an dan do’a-do’a serta cerdas di sekolah? Siapa yang akan mendo’akan Bunda kalau Bunda telah tiada dan Yesi menjadi non muslim?” tohok saya.
Bunda Yesi minta waktu seminggu untuk menjawab tawaran saya. Seminggu kemudian bunda Yesi menerima tawaran saya. Saya dan bu Nuri memberi beasiswa beserta fasilitas sekolah yang berasal dari donatur (selain LMI) dan diberikan sebulan sekali hingga Yesi lulus SMA/sederajat. Sama seperti pada Bunda Ajeng, Bunda Yesi kami warning, beasiswa akan dicabut jika Yesi kembali ke gereja.

Bunda 5           : “Terserah Wulan saja. Saya tidak berani  menolak  keinginannya untuk
les di gereja. Apalagi yang mengajak adalah tetangga saya yang selama ini sangat baik. Saya tidak enak dengan tetangga saya yang rela antar jemput Wulan untuk les di sana.”
            Sebenarnya saya sudah menyalurkan beasiswa LMI kepada Wulan karena kondisinya yang sangat papa dan yatim. Tetapi sang bunda kurang bisa diajak berkomunikasi sehingga Wulan sering diajak tetangganya ke gereja. Sampai akhirnya beasiswa dari LMI dicabut karena tidak dapat diingatkan.
Kami juga mendengar kalau selama Natal, Wulan ikut merayakan. Karena tidak ingin berlarut, Bu Nuri berusaha mendekati Wulan yang saat itu sudah kelas 6 SD. Melalui pendekatan intens kepada Wulan dan sedikit pemaksaan, akhirnya Wulan berjanji tidak akan ke gereja lagi dan akan keluar dari les di gereja (ternyata kedua gereja yang diikuti Wulan adalah gereja yang berbeda aliran. Wah jadi rebutan rupanya!).
Akhirnya Wulan mendapat beasiswa dari dua donatur sekaligus (selain LMI), mengingat dia adalah anak yatim. Sekarang dia sudah SMP dan kami wajibkan mengikuti pengajian pekanan bersama teman-teman sebaya agar keimanannya bertambah kuat serta tidak mudah terpengaruh lingkungan.

---- 000 ----

Kisah kelima ibu diatas menyadarkan diri saya betapa besar peran seorang ibu dalam mendidik buah hatinya agar bahagia dan selamat dunia akhirat. Hafidz Ibrahim seorang penyair mengatakan : “Ibu adalah sekolah utama, jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa berakar kebaikan”.
Dari sosok ibulah sang anak pertama kali mengenal dunianya, belajar banyak hal termasuk mengenal Allah, Rasul dan Islam. Hendak membentuk anak seperti apa, tetap dalam fitrah atau yang lain, ibulah yang berperan. Apalagi ketika anak masih usia TK/SD, sang anak cenderung menuruti apa saja yang diarahkan oleh ibunya karena secara psikologis, anak membutuhkan perlindungan dan kedekatan seorang ibu. Apa yang dianggap baik oleh ibunya, akan diikuti.
Seorang ibu adalah peletak pondasi masa depan anak. Pondasi keimanan adalah modal utama dan paling penting yang akan menentukan sifat, sikap, pandangan, pegangan hidup dan prestasi anak kelak. Meski tentunya seorang ayah juga harus ikut berperan mendidik buah hatinya.
Menjadi seorang ibu adalah tugas berat yang dituntut terus melakukan pembelajaran terhadap diri sendiri agar perannya dapat optimal. Tidak ada kata berhenti belajar sebagai seorang ibu ketika kita berharap memiliki anak-anak yang sholeh, cerdas, berguna bagi bangsa dan menjadi cahaya yang akan menerangi umat.

---- 00 ---

Kisah diatas saya alami beberapa hari setelah membaca kembali buku yang pernah saya beli tahun 2007 lalu yaitu ZERO to HERO hasil karya Solikhin Abu Izzudin terbitan Pro-u Media, dimana saat itu saya harus membuat materi untuk pengajian pekanan anak-anak SMA yang saya bina. Ketika membaca kembali ZERO to HERO, saya selalu termotivasi agar memperbaharui hidup setiap saat. Untuk tidak melewatkan momentum apapun, sekecil apapun agar mempunyai prestasi di hadapan Allah SWT bukan di hadapan manusia. Karena momentum tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, ungkap Solikhin Abu Izzudin dalam buku ZERO to HERO. Supaya menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain dalam setiap kesempatan.
Karena ternyata masih banyak yang harus diperbaharui dari lingkungan kita. Masih banyak saudara-saudara sesama muslim yang butuh “sentuhan dan pencerahan”. Tetangga, anak-anak binaan di Taman Pendidikan Al Qur’an, para ABG yang sedang mencari jati dirinya dan oh... ternyata pekerjaan rumah masih sangat banyak. Seperti yang pernah disampaikan Hasan Al Banna bahwa kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Yang harus kita kerjakan ternyata lebih banyak dari sisa umur kita.
            Semoga kita semua senantiasa bisa memberi kontribusi sekecil apapun terhadap keluarga, lingkungan dan masyarakat agar memperberat timbangan amal sholeh di yaumil akhir kelak. Jangan sampai ada atau tiadanya diri kita sama saja. Sama-sama dianggap tidak ada seperti makhluk ghoib yang tidak terlihat.



Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

MENANGGUHKAN KEMATIAN


“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa : 78)
            Kisah ini berawal ketika ibunda suamiku (ibu mertua) atau yang biasa kami panggil Mbok sakit dengan keluhan perutnya mengeras dan sulit untuk duduk. Mas Puji - suamiku yang saban hari bertemu beliau karena ladang pekerjaaannya masih menempati halaman ibundanya – segera memeriksakan Mbok ke dokter spesialis penyakit dalam. Diagnosa sementara adalah limpanya membesar.
Sebenarnya lima tahun yang lalu, Mbok juga pernah opname. Bahkan diagnosa dokter waktu itu adalah leukemia. Karena aku tidak percaya dengan diagnosa dokter rumah sakit milik pemerintah dimana Mbok dirawat waktu itu, akhirnya aku bawa hasil laboratorium ke dokter umum kenalan kami yang kala itu menjabat kepala sebuah puskesmas di kota kami. Ketidakpercayaanku terhadap dokter rumah sakit tersebut adalah mana mungkin leukemia menyerang setelah usia Mbok melewati 60 tahun. Aneh! Ternyata menurut pak dokter kenalan kami yang pasien di tempat prakteknya mencapai lebih dari 100 orang dalam sehari (saking murah, banyak yang jodo dan dermawannya), bukan leukemia tetapi limpa yang membesar dan harus dipotong melalui proses operasi bahkan diberi surat rujukan ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang.
            Tentu saja Mbok menolak untuk operasi dengan alasan takut dan usia sudah terlalu sepuh. Rupanya penyakit yang dikira sudah sembuh karena tidak pernah kambuh selama sekian tahun, kembali dirasakan.
            Setelah obat dari dokter spesialis habis dan kondisi Mbok justru menurun, suamiku berinisiatif mengopnamekan Mbok. Dengan masih memakai seragam Korpri – masih jam dinas –aku bergegas ke klinik milik BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) untuk memesan kamar. Karena Mbok trauma dengan rumah sakit, akhirnya dirawat inap di klinik dan ditangani dokter Azhar yang pernah menyarankan Mbok untuk operasi limpa lima tahun yang lalu. Waktu Mbok diturunkan dari ambulans milik BSMI dan melihatku, Mbok merangkulku dan mengucapkan terima kasih. Setelah lima hari dan kondisi membaik, Mbok diperbolehkan pulang.
            Sebulan kemudian, suamiku mengatakan kalau kondisi Mbok menurun. Badan terasa lemas.  Aku menyarankan supaya Mbok dirawat jalan lagi di klinik. Setelah menceritakan kondisi Mbok sore itu, aku berpamitan pada suamiku hendak menghadiri pengajian. Suamiku berpesan kalau selepas sholat Maghrib akan kembali ke Garum untuk menjenguk Mbok (rumah kami di dalam Kota Blitar, sementara rumah mertua di Garum yang sudah masuk wilayah Kabupaten Blitar dan berjarak sekitar 10 km).
            Masih sekitar tiga puluh menit aku ngaji, suamiku menelepon supaya aku segera pulang karena kakaknya yang satu rumah dengan Mbok mengabarkan bahwa kondisi Mbok sangat menurun. Di tengah hujan yang mengguyur deras, aku kembali ke rumah dan menemani ketiga buah hatiku sementara suamiku meluncur ke Garum.
            Lima belas menit kemudian, telepon genggamku berbunyi. “Mbok tidak sadarkan diri. Coba Ummi hubungi Dokter Azhar,” suara suamiku di seberang sambil menahan tangis. Di tengah kepanikan, kuhubungi telepon genggam dr. Azhar. Karena tak ada jawaban, aku beralih menelepon istrinya yang juga berprofesi dokter. Alhamdulillah tersambung dan kusampaikan kondisi Mbok. “Coba antum hubungi Tutus BSMI. Minta dia untuk mengirim ambulans beserta peralatan medis,” saran dr. Laily. Setelah mengucapkan terima kasih, segera aku beralih menelepon Pak Tutus. Beliau berjanji segera mengirim anak buahnya ke Garum yang berjarak sekitar 13 km dari Klinik BSMI untuk mengecek kondisi Mbok.
            Setengah jam kemudian, suamiku menelepon kalau Mbok sudah siuman dan dibawa ke klinik. Aku bersyukur sekali. Alhamdulillah kami mempunyai teman-teman dokter dan para medis yang siap membantu siapapun sewaktu-waktu. Seandainya tidak, tentu kondisi akan lebih sulit lagi. Ah… kita tidak boleh berandai-andai. Semua itu adalah anugerah dari Allah SWT.
            Selepas Isya’, kami beserta anak-anak menjenguk Mbok di klinik. Begitu aku dan anak-anak muncul di pintu ruang VIP klinik tempat Mbok dirawat, Mbok yang tadinya berbaring langsung duduk menyambut kami. Seperti biasa kalau aku bertemu beliau, aku menyalami dan mencium tangan beliau. Kali ini tidak hanya sekedar itu. Mbok memelukku erat dan sambil tersenyum mengatakan “Matur nuwun yo. Wis ngerepoti wong akeh, termasuk awakmu.” (Terima kasih ya. Sudah merepotkan banyak orang, termasuk kamu - pen). Aku sungguh terharu.
            Dari cerita suamiku dan saudara-saudara di Garum yang ikut menunggu Mbok di klinik, tenyata Mbok sempat tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang mulai dingin. Ketika mendapat kabar Mbok tak sadarkan diri, semua saudara berkumpul dan sudah siap jika Mbok dipanggil menghadap Allah karena beberapa minggu terakhir kondisi beliau memang menurun. Bahkan saat itu Pakde Slamet (adik ayah mertua) sudah menyuruh kakak suamiku untuk melepas semua perhiasan yang melekat pada Mbok dan menyuruh beberapa orang untuk membaca yasin. Hingga pertolongan Allah datang dan Mbok mendapat bantuan infus serta oksigen dari perawat Klinik BSMI yang datang ke rumah Garum sehingga Mbok dapat siuman dan sehat kembali.
            Seminggu setelah Mbok pulang dari klinik, kami sekeluarga berniat silaturahim ke Garum. Sebelum berangkat, kami berpamitan pada Ayut (panggilan kami kepada Nenek Buyutku) yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. Seperti biasa, Ayut bertanya aku pulang jam berapa. Kali ini ditambahi dengan pesan, “Kalau Aku tidak ada, Kamu bawa saja kunci pintu rumah ini supaya kalau mau masuk lebih mudah. Nanti kuncinya kuletakkan di atas almari itu ya.”
            Aku mengiyakan saja. Namun di perjalanan, aku mengutarakan keganjilan pesan Ayut tadi pada suamiku. “Mengapa Ayut berpesan seperti itu. Tak biasanya. Apa Ayut akan meninggal ya, Bi,” tanyaku pada suamiku. Usia Ayut memang telah menginjak 92 tahun. Namun ingatan beliau masih sangat kuat meski pendengaran dan penglihatan sudah jauh berkurang. Untuk sholat saja, beliau lakukan sambil duduk karena ketika sudah duduk, tidak mampu untuk berdiri kembali.
            Suamiku berusaha menenangkan dan menyuruhku untuk tidak berpikir yang bukan-bukan. Namun aku tetap penasaran dengan pesan Ayut tadi sehingga adikku yang rumahnya juga bersebelahan denganku ketelepon supaya menjenguk Ayut dan mengabarkan padaku jika terjadi apa-apa.
            Hampir dua minggu tidak terjadi peristiwa yang kukhawatirkan. Semuanya berjalan seperti biasanya. Ayut tetap sehat dan setiap hari masih bisa bercengkerama dengan kami.
            Namun Jum’at sore itu, suamiku menelepon kalau Mbok masuk klinik lagi karena kondisi menurun secara tiba-tiba. Sore itu, kami beserta anak-anak segera menyusul ke klinik. Kali ini Mbok sama sekali tidak dapat bangkit dari pembaringan. Ketika kusalami dan kucium tangan beliau, Mbok hanya tersenyum dan berusaha melepas selang oksigen yang dipasang pada hidung beliau yang kemudian kupasangkan kembali karena napasnya tersengal-sengal.
            ”Sejak siang tadi Mbok tidak mau makan apapun. Nasi yang diberikan klinik ini juga tidak dimakan. Obatnya juga tidak mau,” kata Mbak Nari, kakak suamiku yang menunggui Mbok saat itu.
            Ketika kutawarkan kusuapi, Mbok menggeleng. Akhirnya kutawarkan pisang. Beliau mau menyantapnya meski dengan sangat kesulitan. Obatpun akhirnya dimakan juga sehingga kami merasa lega.
            Namun saat itu aku merasa ada sebuah kejanggalan. Biasanya Mbok menghadapkan wajahnya pada kami yang menjenguknya, bahkan tersenyum-senyum saat melihat polah tingkah ketiga buah hati kami. Saat itu, beliau justru membelakangi kami, menghadapkan wajahnya ke tembok. Namun aku menepis rasa aneh itu dan berpikir mungkin Mbok ingin tidur. Aku hanya membisikkan supaya Mbok memperbanyak istighfar. ”Iya, sejak tadi Aku sudah istighfar terus,” jawab Mbok.
            Sepuluh menit sebelum adzan Maghrib, kami bermaksud berpamitan. Ternyata Mbok ingin ke kamar mandi, tidak mau jika di pispot. Karena tidak mampu berjalan, setelah infus dihentikan sementara oleh perawat, suamiku langsung membopong Mbok ke kamar mandi klinik.
            Setelah dari kamar mandi, perawat klinik berusaha mengalirkan infus kembali. Beberapa kali dicoba namun macet. Perawat yang lain berusaha membantu dengan mengalihkan pada nadi yang lain. Tetap macet. Dikarenakan adzan Maghrib telah berkumandang, kami berniat pulang.
            Karena Mbok tetap membelakangi kami dan perawat masih membetulkan infus, kami tidak berpamitan pada Mbok karena nanti selepas Isya’ suamiku akan kembali menemani Mbok di klinik seperti biasanya jika beliau dirawat. Namun ketika sudah keluar dari pintu klinik, ada perasaan tidak enak menyeruak dalam hatiku. Aku kembali lagi ke kamar Mbok dan ternyata perawat masih tetap membetulkan infus yang macet tadi. Akhirnya aku urung kembali berpamitan. Khawatir mengganggu istirahat beliau.
            Setelah sholat Maghrib, hatiku tetap tidak tenang teringat infus yang macet tadi. Aku menelepon Heny salah satu perawat yang kukenal di klinik. ”Ini sedang diusahakan, Bu. Dokternya juga sudah dihubungi. Sejak masuk klinik tadi, memang sulit mencari nadinya. Terus ada bercak-bercak merah di kulit. Besok pagi mau di-lab-kan,” terang Heny.
            Lima belas menit kemudian, suamiku mendapat telepon dari klinik kalau kondisi ibunya drop. Bergegas suamiku berangkat ke klinik. Lima menit kemudian, ”Mbok tidak tertolong, Mi. Tolong kabari yang lain dan bersiap-siap. Jenazah langsung dibawa ke Garum,” parau suara suamiku. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Akhirnya Mbok, mertua yang kusayangi sama seperti aku menyayangi ibu kandungku, yang perhatian pada kami, yang selalu semringah jika kami mengunjungi beliau, telah kembali ke haribaan Illahi dua minggu sebelum Ramadhan 1431 H. Di tengah derai air mata yang mengucur deras, kami ikhlas dengan kepergian beliau. Semoga khusnul khotimah dan kembali ke jannah-Nya.

--- 000 ---

            Betapa umur manusia tidak ada yang bisa menebak. Ketika aku menyangka Ayut yang akan meninggal di usia 92 tahun karena beliaupun ”sudah siap” jika sewaktu-waktu ”dipanggil” Allah, ternyata masih dipanjangkan sisa umurnya. Ketika aku mengira, Mbok akan sembuh seperti sedia kala, tenyata Allah menginginkan beliau kembali ke pangkuan-Nya di usia 78 tahun. Ketika aku tidak pernah berpikir akan kehilangan orang yang kukasihi dan melindungiku, ternyata ayahku meninggal mendadak tanpa didahului sakit apapun di usia 44 tahun sewaktu aku kelas 3 SMA. Ketika sedang diusahakan kesembuhannya bahkan telah menjalani operasi sebanyak 7 kali dalam waktu 7 bulan, Allah menginginkan Ramdhan Aldil Sahputra bocah penderita Atresia Billier (kelainan hati dan empedu) dari Trenggalek untuk kembali ke surga-Nya di usia 3,5 tahun pada Mei 2010 yang lalu. Bisakah kita memastikan atau hanya sekedar menebak hingga umur berapa kita hidup di dunia?
            Ada beberapa persamaan antara Mbok dan Ramdhan Aldil Sahputra meski tidak sama persis. Ramdhan mendapat perawatan maksimal dan terbaik di RS dr. Sutomo Surabaya walaupun akhirnya meninggal. Akupun sempat meneteskan air mata mengetahui bocah lucu itu meninggal dunia, meski aku tidak mengenalnya secara langsung. Sementara karena trauma di rumah sakit, suamiku tetap berusaha berikhtiar beberapa kali merawatinapkan Mbok meskipun beliau sebenarnya tidak berkenan.
Umur manusia memang rahasia Allah. Namun kita diwajibkan berikhtiar dan berdo’a untuk ”menangguhkan kematian.” Ketika sakit, selain berdo'a juga ikhtiar berobat dengan keyakinan kesembuhan itu hanyalah dari Allah.
Seperti yang disampaikan Sholikhin Abu Izzudin dalam buku hasil karyanya yang menjadi salah satu buku favoritku ZERO to HERO  yang kubeli tahun 2007 yang lalu, dimana kita diajak untuk menggunakan anugerah waktu sebagai momentum untuk berprestasi. Untuk menyibukkan diri dalam kebaikan. Karena jika tidak, niscaya ia akan disibukkan dalam keburukan. Kita diajak berhitung, menghitung umur kita yang produktif dan meminimalisir umur kita yang tidak produktif yang hanya digunakan untuk tidur dan bersantai-santai. Diajak untuk merubah paradigma, cara pandang kita terhadap kehidupan kita sendiri.  
Segala sesuatu yang kita rencanakan di dunia, belum tentu tercapai semua. Namun jangan takut bermimpi. Karena mimpi hari ini adalah kenyatan di hari esok. Jangan pula tak punya rencana terhadap hidup kita. Kata ahli manajemen, gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan.
Hidup harus direncanakan. Karena di dunia hanya ada satu hal yang pasti terjadi yaitu kematian. Bagaimana cara kita mati nanti? Hanya ada 2 pilihan, khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Tak ada pilihan yang lain.
Tak ada satupun manusia yang mengetahui kapan ajal menjemput. Hanya ada 2 pilihan. Beramal sholeh setiap saat dengan harapan lebih berat timbangan kebaikannya atau hidup berleha-leha dengan selalu menunda-nunda melakukan kebaikan. Mengapa takut mati tapi tidak mempersiapkan diri menghadapi kedatangan malaikat pencabut nyawa?
Bisa jadi ada yang berpikir, usia masih muda, belum menikah, masih anak-anak, sedang di puncak karier sehingga mustahil malaikat Izro’il akan mencabut nyawanya. Sedangkan kematian itu tiba-tiba. Tak peduli masih anak-anak atau sudah uzur.
            Semoga kita senantiasa mengingat dan mengamalkan QS. Al An’am : 162-163 : ”Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

--- 000 ---

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html